Transsulawesi.com, Batui -- Musim membludaknya populasi ikan duong atau nike di muara Sungai Batui, Kecamatan Batui sedang berlangsung dimulai Minggu (28/7) lalu. Musim ikan duong hanya terjadi sekali di pertengahan tahun dan berlangsung selama empat atau lima hari.
Ukuran ikan duong lebih kecil dari ikan teri yang berkumpul dalam populasi yang besar di muara sungai dalam proses tumbuh menjadi ikan besar seperti halnya ikan salmon di belahan Utara Bumi yang bermigrasi dari laut ke hulu sungai untuk berkembangbiak.
Dari keterangan beberapa nelayan, ikan duong atau nike ini merupakan anakan dari ikan Malalugis sebutan warga Batui.
Uniknya kali ini, salah seorang traveler asal Jerman, Mert Temel, ikut merasakan pengalaman bagaimana menangkap kumpulan ikan mungil yang transparan bentuknya ini hingga tampak jelas tulang dan organ perutnya.
Menurut Mert Temel pengalaman ini pertamakali dalam hidupnya menangkap ikan dengan ukuran mungil ini. Walau sebelumnya, pada malam hari traveler Jerman ini gagal menangkap ikan duong karena sedang air surut. Beruntung pada pagi harinya ia bersama nelayan bisa mewujudkan impiannya itu.
Menurut Mert Banggai merupakn daerah yang perlu di eksplorasi lagi. Menurutnya adat dan budaya di Banggai menjadi salah satu keunikan sendiri.
“Kalau di sini pesta bisa tutup jalan,” kelakar Mert kepada Transsulawesi.

Membludaknya populasi duong di muara bagi warga Batui menjadi penanda akan berakhirnya musim hujan. Siang dan malam warga beramai-ramai memanen ikan duong di muara dengan pukat dan ember.
Untuk satu kotak besar ikan duong seberat 63 kilogram dihargai Rp 750 ribu oleh pembeli sebelum dijual ke pabrik ikan dan pasar di Luwuk. Selama puncak musim duong, warga membelinya dengan harga murah di pasar, dan populer sebagai ikan goreng tepung favorit nan lezat di meja makan. (mhr)