Saatnya Kita Mengakhiri Perseteruan Cebong Vs Kampret

Saatnya Kita Mengakhiri Perseteruan  Cebong Vs Kampret

Ilustrasi Cebong dan Kampret (vice news)

Transsulawesi.com, Banggai -- Perhelatan Pilpres 2019 resmi berakhir. Sayang, perseteruan 'cebong dan kampret' masih saja mengemuka. Cebong dan kampret adalah julukan merendahkan dipakai pendukung dua calon yang mendominasi pembicaraan politik kita lebih dari lima tahun terakhir: Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Suporter Jokowi, politikus yang dikenal gemar memelihara kodok ketika masih menjabat Wali Kota Solo ataupun Gubernur DKI Jakarta, kebagian julukan mesra cebong. Pendukungnya dianggap laiknya anak-anak kodok 'peliharaan' Jokowi. Selalu ngintil dan hanya bisa patuh. Variasinya menjadi 'bong' atau 'cebongers'.

Sementara fans Prabowo rutin dipanggil kampret. Asal mula munculnya sebutan ini agak sulit dilacak. Selama ribut Pilpres 2014, pendukung Prabowo masih sering dipanggil pasukan nasi bungkus. Mendadak panasbung berubah jadi kampret, yang konsisten mengemuka hingga 2019.

Sebut saja ”si mulut jamban”, ”kaum bumi datar”, ”cebonger”, ”bani taplak”, ”bani serbet”, dan lain-lain. Sebagaimana diketahui, pada Pilkada DKI 2017, pendukung Ahok juga merangkap kubu Jokowi, sedangkan pendukung Anies Baswedan merangkap kubu Prabowo.

Lompatan luar biasa ya, dari makanan jadi fauna. Kemungkinan supaya mengimbangi sebutan pendukung Jokowi yang berbasis hewani juga. Maknanya kira-kira begini: kelelawar pemakan buah itu tidurnya terbalik. Maka, pendukung Prabowo "kemampuan nalarnya pun terbalik".

Intinya, dua sebutan itu sama-sama tidak enak didengar ataupun diucapkan di dunia nyata. Tapi, di kolom komentar medsos, orang yang aslinya mungkin baik hati, jadi tega menyebut satu sama lain sebagai utusan dunia binatang.

Tapi, kalau melihat kelakuan mereka di dunia maya, simpati pasti cepat hilang. Dua tim hore Jokowi ataupun Prabowo itu didukung buzzer gigih. Siang malam konsisten ribut dan sama-sama punya banyak pengikut. Saling serang menggunakan politik identitas dan sentimen populisme agama sama-sama mereka lakukan. 

Ketika akhirnya kericuhan pecah di beberapa titik Jakarta, menewaskan delapan orang serta melukai 700-an lainnya hanya karena hasil pilpres 2019, tak sedikit orang betul-betul lelah. Perseteruan ini basi, punya konsekuensi serius, dan merusak persaudaraan sesama anak bangsa.

Kabar buruknya: tradisi saling olok berbasis fauna sudah terlanjur mendarah daging bagi sebagian pengguna Internet selama era Jokowi. Patut diduga lima tahun ke depan, saling mengejek di media sosial masih menjadi tradisi, apalagi jika sentimen identitas masih dimainkan elit politik.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Wawan Masudi mengatakan hal itu masih terjadi hingga sekarang karena masif digunakan di media sosial.

"Ini dimensi fenomena sosial, dampak langsung penggunaan medsos sebagai alat kampanye, saling menjatuhkan lawan politik," ucap Wawan.

Merawat Persatuan

Merawat persatuan merupakan strategi paling efektif dalam menjaga keutuhan negara, dengan persatuan, negara berupaya mewujudkan keadilan secara menyeluruh. Pun dalam konteks demokrasi, yang mengakomodasi masyarakat untuk memilih pemimpinnya selama 5 tahun ke depan, tanpa keterpaksanaan.

Membentuk warga negara yang dewasa seharusnya menjadi hasil dari proses serta dinamika politik, wajar berbeda dalam pandangan politik, tetapi jika  membuat kita terus berkonflik, tandanya kita belum menjadi bangsa visioner.

Belajarlah dari Natsir, walau selalu berbeda pandangan politik dengan Soekarno, Natsir tidak pernah berbicara buruk tentang Soekarno. Natsir selalu mengutamakan kesantunan. Renungkan bagaimana prihatinnya pendiri bangsa, karena kita selalu terjebak konflik yang tidak berarti.

Tanggung jawab bersama dalam  merawat persatuan dan kesatuan bangsa tidak mungkin kita mewariskan dendam akibat konflik yang tidak berarti, terutama pilpres. Kita bersaudara. Energi kita lebih bermanfaat apabila digunakan untuk menyelesaikan beragam persoalan bangsa, serta memikirkan Indonesia bagaimana kelak nanti.  

Redaksi Transsulawesi.com

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.